Di tengah meningkatnya kebutuhan akan pelestarian warisan budaya yang relevan dengan perkembangan teknologi dan pendidikan abad ke-21, Indonesian Islamic Civilization & Digital Heritage Center hadir sebagai institusi warisan budaya (heritage institution) yang mengintegrasikan pelestarian peradaban Islam Nusantara, penelitian ilmiah, inovasi digital, dan pembelajaran transformatif dalam satu ekosistem pendidikan yang berorientasi global.

Indonesian Islamic Art Museum (IIAM) yang didirikan pada 28 Desember 2016 ini dikelola oleh Yayasan D’topeng Kingdom Group.
Pusat peradaban sejarah ini dikembangkan sebagai Center of Excellence dalam bidang Islamic Civilization, Heritage Education, Digital Heritage Interpretation, dan Museum-Based Learning.
“Lebih dari sekadar museum, institusi ini berfungsi sebagai pusat pembelajaran, penelitian, interpretasi budaya, serta kolaborasi akademik yang mempertemukan warisan masa lalu dengan tantangan masa depan,” ungkap Business Intelegent Counsultant D’ topeng Kingdom Foundation, David George. H, S. Kom, MH, Selasa (7/7/2026).
David menjelaskan, pengembangan museum ini berlandaskan keyakinan bahwa warisan budaya merupakan sumber pengetahuan yang hidup.
“IIAM atau juga dikenal sebagai Museum Islam Indonesia, mengembangkan paradigma bahwa museum bukan hanya tempat menyimpan koleksi, melainkan institusi yang menghasilkan pengetahuan (knowledge-producing institution), membangun literasi budaya, memperkuat kesadaran sejarah (historical consciousness), serta mendorong dialog lintas budaya sebagai fondasi masyarakat yang damai, inklusif, dan berkelanjutan,” paparnya.
Koleksi museum merepresentasikan perjalanan panjang peradaban Islam Nusantara melalui artefak, manuskrip, kaligrafi, naskah kuno, karya seni, dan berbagai peninggalan budaya yang mencerminkan perkembangan intelektual, spiritual, sosial, dan artistik masyarakat Islam Indonesia.
Narasi koleksi mencakup dinamika kerajaan-kerajaan Islam seperti Samudra Pasai, Kesultanan Aceh, Demak, Mataram Islam, Banten, Cirebon, Ternate, Tidore, hingga Gowa–Tallo, hinga para Wali Songo turut berperan penting dalam penyebaran yang memberikan kontribusi besar terhadap pembentukan identitas bangsa Indonesia.

“Setiap koleksi diinterpretasikan melalui pendekatan ilmiah sehingga tidak hanya dipandang sebagai objek sejarah, tetapi sebagai sumber pembelajaran yang terus hidup, relevan, dan mampu menginspirasi generasi masa kini serta masa depan,” sambung David.
Sementara dalam menjawab transformasi pendidikan global, museum mengadopsi pendekatan Deep Learning, Heritage Education, Experiential Learning, dan Museum-Based Learning.
Pendekatan ini menempatkan pengunjung sebagai pembelajar aktif yang membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung, refleksi kritis, dialog, dan interpretasi budaya.
Melalui prinsip Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning, setiap kunjungan dirancang menjadi perjalanan intelektual yang menghubungkan sejarah, nilai-nilai kemanusiaan, identitas budaya, serta perkembangan ilmu pengetahuan.
“Pembelajaran tidak lagi berhenti pada hafalan fakta sejarah, melainkan mendorong kemampuan berpikir kritis, kreativitas, empati, komunikasi, kolaborasi, dan pembentukan karakter sebagai kompetensi penting abad ke-21,” jelasnya.
Sebagai bagian dari transformasi museum di era metaverse digital, Indonesian Islamic Art Museum (IIAM) mengintegrasikan teknologi Augmented Reality (AR), QR Interactive Movie, Storytelling multimedia imersif, dan interpretasi digital diterjemahkan juga dalam 12 bahasa (12 negara) untuk memperluas akses masyarakat terhadap kekayaan warisan budaya Islam.
Menurut David, teknologi tersebut tidak dimaksudkan menggantikan autentisitas koleksi, tetapi memperkaya pengalaman interpretatif sehingga sejarah dapat dipahami secara lebih kontekstual, inklusif, dan menarik bagi generasi digital.
Transformasi digital tersebut memperkuat posisi museum sebagai ruang belajar masa depan yang menghubungkan warisan budaya dengan inovasi teknologi, sekaligus mendukung peningkatan literasi digital, literasi budaya, dan literasi sejarah dalam masyarakat.
David mengatakan, sebagai institusi pendidikan publik, museum juga membuka ruang kolaborasi dengan sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi, komunitas budaya, lembaga penelitian, pemerintah, industri kreatif, dan jaringan museum internasional dalam pengembangan riset, pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, serta inovasi pembelajaran berbasis warisan budaya.
Dengan lokasi yang strategis di kawasan Wisata Bahari Lamongan (WBL) dan hanya sekitar 15 menit dari kawasan religi Makam Sunan Drajat, Museum Islam Indonesia atau IIAM ini diharapkan menjadi destinasi edukasi dan singgahan akademik bagi peserta didik, mahasiswa, peneliti, peziarah, serta masyarakat luas yang ingin memperdalam pemahaman sejarah dan peradaban Islam Nusantara.
Komitmen tersebut sejalan dengan agenda pembangunan sumber daya manusia Indonesia, pelestarian warisan budaya, penguatan pendidikan karakter, dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals), khususnya dalam bidang pendidikan berkualitas, pelestarian budaya, inovasi, dan kemitraan global.

“Indonesian Islamic Art Museum meyakini bahwa pelestarian peradaban bukan sekadar menjaga artefak masa lalu, melainkan membangun masa depan melalui pendidikan, penelitian, inovasi, dan kolaborasi,” ucapnya.
Dengan mengintegrasikan warisan budaya Islam Nusantara, teknologi digital, penelitian akademik, dan pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning), institusi ini berkomitmen menjadi pusat rujukan nasional dan mitra internasional dalam pengembangan pendidikan berbasis warisan budaya.
